22 October 2009 - 11:10
(Jakarta) Departemen Kehutanan bekerja sama dengan Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) Pemerintah mengadakan forum bersama mengenai Kepulauan Seribu. Sejak tahun 19960-an ekosistem di Kepulauan Seribu mengalami tekanan serius karena adanya kebijakan open access bagi publik. Suatu tantangan sendiri mempertahankan keutuhan ekosistem ditengah ketergantungan masyarakat pada pulau sekitarnya yang semakin tinggi. Masalah utama yang dihapi kepulauan ini antara lain penangkapan ikan dan biota laut yang mana berdampak signifikan terhadap ekosistem terumbu karang.
Terumbu karang di sana adalah ekosistem khas daerah tropic yang dikelilingi oleh terumbu karang tepian (fringing reef) dengan kedalaman 10-20 meter. Terumbu karang merupakan salah satu sub sistem ekosistem perairan laut produktif, dengan produktivitas primer mencapai 10.000 gram carbon/m2/tahun. Pengalaman menunjukan bahwa ketersediaan data tentang ekosistem sangat penting dalam proses pengambilan kebijakan keseimbangan lingkungan.
Pada 21 Maret 1995, menteri Kehutanan mengeluarkan Kepmen Nomor 6310/Kpts-II/2002, seluas 107.489 ha wilayah Kepulauan Seribu diputuskan menjadi Penetapan Kawasan Pelestarian Alam Perairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Balai Nasional Laut Kepulauan Seribu (BTNKps) selaku pengelola bertugas melakukan konservasi sekaligus pemanfaatan untuk kesejahteraan rakyat.
Sebagaimana hasil monitoring ekosistem terus mengalami penurunan terutama rata-rata tutupan terumbu karang dari 33.89% (2003), 34.36% (2005) dan 32.79% (2007). Data time series ini sangat diperlukan untuk kebijakan perbaikan ekosistem terumbu karang, peningkatan jumlah kunjungan dan visitor management (terkait dengan open and close dive spot).
BTNKps bekerjasama dengan Yayasan TERANGI melaksanakan Ekspedisi Karang 2009 dengan melakukan pengamatan ekosistem terumbu karang, yaitu karang keras, karang lunak, ikan karang, makrobenthos non karang, ekosistem lamun dan kualitas perairan. Metode pengamatan yang digunakan untuk monitoring adalah metode visual sensus dengan line intercept transect, belt transect dan quadrate transect.
Harapan terbesar dari sosialisasi ini adalah trcipta kesepahaman di kalangan humas pemerintah akan pentingnya diseminasi inbformasi mengenai ekosistem terumbu karang yang banyak manfaatnya ini di Indonesia. (mji-bakohumas)